BANJARMASIN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat sebanyak 81 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga Selasa (15/7/2026).
Dalam tiga hari terakhir terjadi penambahan sekitar 12 kejadian, dengan Kabupaten Tanah Laut menjadi wilayah yang paling mendapat perhatian karena masih terdapat kebakaran yang belum dapat dijangkau tim darat.
Kepala Pelaksana BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra mengatakan, sebagian besar kebakaran masih dapat ditangani oleh tim di lapangan. Namun, terdapat beberapa titik api di Kabupaten Tanah Laut yang hingga kini belum bisa dipadamkan karena sulitnya akses menuju lokasi.
“Kondisi di Tanah Laut masih menjadi perhatian karena ada beberapa lokasi yang belum bisa dijangkau. Kami berharap dengan operasi udara melalui water bombing, kebakaran di sana dapat segera dikendalikan,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).
Guna mempercepat penanganan, BPBD Kalsel telah mengajukan bantuan operasi water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Permohonan tersebut langsung mendapat respons cepat.
Pesawat OMC telah tiba di Kalsel dan dijadwalkan beroperasi mulai 15 hingga 21 Juli 2026. Selain itu, BNPB juga mengirim satu unit helikopter yang akan digunakan untuk operasi water bombing serta patroli udara.
Personel yang terlibat dalam operasi udara berasal dari BNPB, sedangkan Satgas Darat terdiri dari BPBD Kalsel, BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, serta unsur relawan.
Saat ini, fokus utama penanganan masih berada di Tanah Laut karena luas area yang terbakar cukup besar dan api telah aktif selama beberapa hari.
Sementara itu, jika dilihat dari jumlah titik api, wilayah Banjarbaru menjadi daerah dengan hotspot terbanyak. Meski demikian, sebagian besar masih berskala kecil sehingga dapat ditangani oleh tim pemadam darat.
BPBD Kalsel juga mulai mengaktifkan posko siaga karhutla. Di Banjarbaru disiapkan sekitar delapan posko yang tersebar di kawasan Ring 1 Bandara Syamsudin Noor hingga Bati- bati Posko serupa juga telah disiapkan di 12 kabupaten/kota lainnya.
Menurut BPBD, pola wilayah rawan karhutla tahun ini berbeda dibanding tahun sebelumnya. Jika tahun lalu kebakaran lebih banyak terjadi di wilayah utara bandara, tahun ini potensi terbesar justru berada di sisi selatan, meliputi Pengayuan, Bati-Bati, Tambang Ulang hingga Kurau.
Meski jumlah kejadian meningkat, status penanganan karhutla di Kalsel masih siaga dan belum ditingkatkan menjadi status darurat.
“Kami berharap dengan adanya OMC dan water bombing dari BNPB, eskalasi kebakaran bisa ditekan sehingga tidak perlu menetapkan status darurat,” katanya.
Berdasarkan informasi BMKG, arah angin saat ini bergerak ke barat sehingga asap berpotensi mengarah ke Banjarmasin. Memasuki Agustus diperkirakan arah angin akan bergeser ke utara, sehingga wilayah sekitar bandara perlu diwaspadai. Namun kondisi tersebut masih berupa prakiraan.
Untuk penanganan karhutla, BPBD Kalsel menyiapkan anggaran operasional sekitar Rp300 juta. Apabila kondisi di lapangan memburuk, kebutuhan anggaran akan dievaluasi bersama Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD).
Selain karhutla, BPBD juga mulai mengantisipasi dampak musim kemarau berupa kekeringan. Kabupaten Banjar telah mendistribusikan air bersih kepada masyarakat melalui BPBD setempat dengan dukungan Dinas Pemadam Kebakaran dan para relawan.(lokalhits)



