BANJARMASIN – Kesibukan menjalankan profesi tidak selalu membuat seseorang kehilangan waktu untuk menjaga hubungan dengan para ulama.
Bagi pengacara senior Banua, DR. H. Fauzan Ramon, silaturahmi dengan ulama justru menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai persoalan.
Di tengah kesibukannya mendampingi klien, Ketua YLK Intan Kalimantan itu tetap menyempatkan diri untuk sowan dan bersilaturahmi dengan para ulama.
Kebiasaan tersebut telah dilakukannya sejak lama. Sejumlah ulama kharismatik di Banua pernah menjadi tempat Fauzan bersilaturahmi hingga terjalin hubungan yang dekat.
Salah satunya adalah KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang lebih dikenal sebagai Abah Guru Sekumpul. Foto kebersamaannya dengan almarhum Abah Guru Sekumpul hingga kini masih terpampang di ruang kerja Fauzan sebagai bentuk penghormatan dan kecintaannya kepada ulama.
Selain Guru Sekumpul, Fauzan juga dikenal dekat dengan sejumlah ulama lainnya, di antaranya KH. Anang Jazuli (almarhum) Martapura, KH. Abdul Hakim (almarhum) Martapura, KH. Syaifuddin Zuhri (almarhum) Banjar Indah, serta KH. Ahmad Basit atau Guru Basit.
Terbaru, beberapa hari lalu Fauzan kembali bersilaturahmi dengan Guru Adam Syarkawi di Banjarbaru. Pertemuan tersebut bahkan berlangsung cukup lama, sekitar tiga jam.
Menurut Fauzan, waktu tersebut dimanfaatkan untuk berdialog, mendengarkan pandangan keagamaan, sekaligus meminta doa dan restu kepada ulama.
Ia menilai, kesibukan dalam pekerjaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menjauh dari ulama. Menurutnya, nasihat dan kebijaksanaan para ulama tetap dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Walaupun sibuk sebagai pengacara, kita tetap harus menyerap nilai-nilai kebijaksanaan dari para ulama agar mampu menghadapi berbagai tantangan,” ujar Fauzan.
Bagi Fauzan, silaturahmi dengan ulama juga memiliki nilai spiritual. Ia meyakini keberkahan dan nasihat dari para ulama dapat menjadi pengingat bagi seseorang ketika berada dalam posisi sukses, baik secara finansial maupun dalam karier.
Ia menyebut terdapat dua nilai penting yang dapat dipetik dari kebiasaan tersebut. Pertama, mencari keberkahan melalui doa dan nasihat para ulama. Kedua, menjadikan ulama sebagai pengingat agar seseorang tidak mudah terlena ketika berada di puncak kesuksesan.
“Ulama menjadi pengingat agar kita tidak terlena oleh kesuksesan dan tetap mengingat kepentingan serta kemaslahatan umat,” katanya.
Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari keseharian Fauzan di tengah kesibukannya sebagai pengacara. Ia tetap meluangkan waktu untuk berdialog, menerima nasihat, dan menjaga silaturahmi dengan para ulama.(lokalhits)



