11 Ribu Kosakata Banjar Masuk Ensiklopedia Digital Kalsel

Kabid Kebudayaan Disdikbud Kalsel, Eddy Suwarto

BANJARMASIN – Sebanyak 11.000 kosakata Bahasa Banjar kini masuk dalam Ensiklopedia Kebudayaan digital yang disusun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan (Kalsel) sebagai bagian dari upaya melestarikan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan era digital.

Ensiklopedia tersebut disusun melalui kerja sama dengan Balai Bahasa. Selain memuat kosakata Bahasa Banjar, platform digital berbasis spasial itu juga digunakan untuk memetakan 19 cagar budaya, warisan budaya takbenda, serta mendata sanggar dan pegiat seni yang tersebar di Kalsel.

Kabid Kebudayaan Disdikbud Kalsel, Eddy Suwarto, mengatakan digitalisasi menjadi salah satu strategi baru dalam pelestarian kebudayaan.

Disdikbud Kalsel tidak lagi hanya mengandalkan kegiatan seremonial, tetapi mulai memperkuat pembinaan berbasis komunitas atau akar rumput.

“Selama ini program kebudayaan terlalu fokus pada event eksklusif yang sifatnya bongkar panggung, selesai tanpa dampak panjang. Sekarang kita ubah berbasis komunitas (based on community), membangun ekosistem kebudayaan dari bawah,” tegas Eddy, Senin (10/8/2026).

Pembinaan tersebut terutama menyasar generasi muda usia 10 hingga 15 tahun. Menurut Eddy, pengenalan budaya sejak dini penting untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap budaya daerah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga seni budaya dan bahasa Banjar yang semakin tergerus perkembangan zaman, budaya luar, serta penggunaan gawai di kalangan anak muda.

Selain digitalisasi dan pembinaan komunitas, Kalsel kata Eddy juga menargetkan pendirian Institut Seni Budaya Banua. Rencana tersebut telah dimasukkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Upaya pelestarian budaya itu mendapat dukungan dari Komisi IV DPRD Kalsel.

Anggota Komisi IV DPRD Kalsel dari Fraksi NasDem, H. Iberahim Noor, menilai kesenian tradisional dan bahasa Banjar saat ini menghadapi kemunduran yang perlu segera diantisipasi.

“Kesenian daerah dan bahasa Banjar asli saat ini semakin redup. Dulu setiap ada hajatan masyarakat pasti menampilkan pertunjukan wayang atau kesenian lokal. Sekarang tradisi itu hampir punah akibat tergerus budaya luar dan paparan gawai pada anak-anak muda,” ujar Iberahim.

Ia meminta program pelestarian budaya yang dirancang Disdikbud Kalsel tidak berhenti sebagai rencana, tetapi segera direalisasikan secara konkret.

Menurut Iberahim, program seperti penyusunan kamus bahasa daerah, pendataan kebudayaan, serta pembinaan sanggar perlu dipercepat dan menjadi prioritas agar identitas budaya lokal tidak semakin tergerus.

“Jangan sampai kita terlambat. Kalau tidak segera dilakukan, identitas budaya lokal bisa semakin tergerus dan akhirnya benar-benar sirna,” pungkasnya.(lokalhits)

Penulis Ani
Editor Ani

Artikel Lainnya

Scroll to Top