Tiga Jembatan Kukar Dikaji Bersama Balai Keselamatan Jembatan PUPR

Salah satu jembatan di wilayah Kukar

TENGGARONG – Banyaknya jumlah jembatan di Kutai Kartanegara (Kukar) rupanya menjadi tantangan tersendiri bagi Dinas Pekerjaan Umum (PU) dalam melakukan pemeliharaan. Di tengah keterbatasan efisiensi anggaran, pelaksanaan pemeliharaan rutin pun belum dapat berjalan maksimal sesuai ketentuan ideal.

Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas PU Kukar, Linda Juniarti, menjelaskan bahwa secara aturan, pemeliharaan rutin jembatan seharusnya dilakukan setiap 1–3 bulan sekali.

Sementara untuk pemeliharaan berkala dilaksanakan dalam rentang 1–5 tahun, tergantung kondisi fisik jembatan dan lingkungan sekitarnya.

“Kalau aturan untuk pemeliharaan rutin jembatan itu 1–3 bulan sekali, sedangkan pemeliharaan berkala 1–5 tahun sekali. Tergantung kondisi jembatan dan lingkungannya,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).

Namun di lapangan, keterbatasan anggaran rupanya menjadi kendala utama. Ia mengakui pemeliharaan rutin jarang dilakukan karena dana yang tersedia harus dibagi untuk banyak jembatan di wilayah Kukar yang luas.

“Tapi kendalanya kita saat ini kan di anggaran yang terbatas. Jadi jarang pemeliharaan rutin itu dilaksanakan, dan juga jembatan di Kukar ini banyak, jadi banyak juga yang harus dipelihara,” katanya.

Untuk tahun 2026, ia mengungkapkan bahwa Pemkab Kukar telah mengalokasikan total Rp3 miliar untuk pemeliharaan jembatan. Rinciannya, Rp2 miliar untuk pemeliharaan berkala dan Rp1 miliar untuk pemeliharaan rutin.

Kendati demikian, anggaran pemeliharaan berkala tahun 2026 ini kata dia, dialihkan untuk melanjutkan pemasangan jembatan bailey di wilayah Enggelam akibat putus kontrak pada tahun sebelumnya.

Sementara anggaran pemeliharaan rutin diprioritaskan untuk penanganan jembatan di Sebuntal yang mengalami kerusakan berat dan menjadi satu-satunya akses masyarakat.

“Rp2 miliar untuk berkala, Rp1 miliar untuk rutin. Yang berkala itu untuk melanjutkan pemasangan bailey di Enggelam, dan yang rutin karena ada jembatan di Sebuntal yang sudah rusak berat. Itu akses satu-satunya, rencana mau dikerjakan bailey kalau cukup uangnya,” jelasnya.

Sementara, Kepala Dinas PU Kukar, Wiyono, memastikan secara umum kondisi jembatan di Kabupaten Kukar masih dalam keadaan aman, termasuk Jembatan Tenggarong yang sempat diisukan mengalami penurunan.

Dinas PU Kukar beber dia, telah melakukan koordinasi dan pengujian teknis dengan mengirimkan hasil deteksi ke Jakarta untuk dianalisis. Hasil sementara menunjukkan kondisi jembatan masih relatif baik.

“Secara umum itu aman. Memang ada sedikit penurunan di ujung, tapi masih dalam batas normal. Kalau terasa goyang saat macet, itu memang karakter jembatan dan masih dalam posisi normal, bukan membahayakan,” terangnya.

Pada kesempatan itu, ia membeberkan bahwa Pemkab Kukar tahun ini juga mengalokasikan anggaran untuk mendapat pendampingan dari Balai Keselamatan Jembatan Kementerian PUPR guna melakukan kajian dan analisis terhadap tiga jembatan, yakni Jembatan Tenggarong, Jembatan Martadipura, dan satu jembatan di wilayah Anggana.

Hasil kajian tersebut nantinya akan menjadi dasar rekomendasi teknis untuk langkah perbaikan selanjutnya, termasuk kebutuhan anggaran di tahun berikutnya.

“Kita tidak berani langsung memperbaiki tanpa kajian. Kita minta bantuan tenaga ahlinya untuk menganalisa. Rekomendasi itulah nanti yang jadi dasar proses perbaikannya,” tegas Wiyono.(lokalhits)

Penulis Riza
Editor Riza

Artikel Lainnya

Scroll to Top